Gunung Merapi di Perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

Proses pembentukan gunung dimulai dari pergerakan lempeng tektonik yang saling bertabrakan, menyatu, atau terpisah. Di sepanjang batas konvergen, seperti antara lempeng Australia dan Eurasia, tabrakan menyebabkan salah satu lempeng masuk ke bawah lempeng lainnya dalam proses subduksi. Panas dan tekanan dari interaksi ini memicu pelelehan batuan di mantel bumi, menghasilkan magma yang menjadi bahan dasar gunung api.

Magma yang terbentuk akibat subduksi perlahan bergerak naik ke permukaan melalui celah-celah kerak bumi. Saat mencapai zona yang lebih dangkal, magma ini membentuk kantong-kantong besar yang dikenal sebagai dapur magma. Aktivitas selanjutnya sering kali memunculkan gunung api, terutama di kawasan seperti Pulau Jawa yang banyak dipengaruhi tabrakan lempeng.

Proses subduksi

Selain itu, gunung juga dapat terbentuk di zona divergen, di mana lempeng-lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Celah yang terbentuk memungkinkan magma keluar langsung ke permukaan, menciptakan punggung laut atau gunung bawah laut yang kadang muncul ke daratan. Di kawasan hotspot, gunung api bisa muncul di tengah lempeng akibat adanya sumber panas yang menetap di bawah kerak.

Proses divergen

Gunung-gunung lipatan terbentuk melalui proses yang berbeda. Ketika dua lempeng daratan bertabrakan, seperti lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia di Asia Selatan, tekanan yang besar menyebabkan kerak bumi melipat dan membentuk pegunungan besar, seperti Himalaya. Proses ini membutuhkan waktu ribuan hingga jutaan tahun, dipengaruhi oleh tekanan dan kompresi terus-menerus.

Pegunungan Himalaya