Sebelum itu, apa itu gunung api purba?
Gunung api purba adalah gunung berapi yang telah mati dan tidak lagi menunjukkan aktivitas vulkanik. Hal ini terjadi karena pasokan magma dari dapur magmanya telah terputus. Saat gunung api mati, sisa magma di dalam saluran utamanya akan membeku, membentuk batuan beku seperti granit atau diorit. Seiring waktu, proses erosi alami mengikis tubuh gunung, sehingga sering kali yang tersisa adalah struktur seperti leher vulkanik (volcanic neck) atau sumbat vulkanik yang terdiri dari batuan keras. Contoh terkenal gunung api purba di Indonesia adalah Gunung Api Purba Nglanggeran di Yogyakarta, yang telah mati sekitar 18 – 20 juta tahun yang lalu.

Apakah dapat aktif kembali?
Peluang gunung api purba untuk aktif kembali sangat kecil, bahkan hampir mustahil. Menurut para ahli, seperti Hanik Humaida, mantan kepala BPPTKG Yogyakarta, kemungkinan ini serupa dengan peluang dinosaurus hidup kembali di era modern. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa gunung api purba telah kehilangan koneksi dengan dapur magmanya. Tanpa pasokan magma baru, tidak mungkin terjadi aktivitas vulkanik.

Gunung api purba berbeda dengan gunung api tidur (dorman), yang meskipun sedang tidak aktif, masih memiliki hubungan dengan dapur magma di bawahnya. Gunung api tidur dapat kembali aktif jika ada perubahan signifikan di dapur magmanya, seperti peningkatan tekanan magma atau perubahan tektonik. Sebaliknya, struktur internal gunung api purba telah berubah secara signifikan karena waktu, erosi, dan solidifikasi magma.

Mengapa Tidak Mungkin Gunung Api Purba Aktif Lagi?
Ketika dapur magma gunung api purba menjadi tidak aktif, struktur geologinya juga mulai berubah. Dapur magma mengeras, saluran vulkanik tertutup oleh batuan beku, dan gunung api tidak lagi memiliki sumber energi untuk memicu letusan. Dalam kondisi seperti ini, peluang gunung tersebut untuk “bangun kembali” sangat kecil.

Sebagai tambahan, proses pembentukan gunung api baru biasanya memerlukan jalur magmatis baru di bawah permukaan bumi, yang sering kali terbentuk di lokasi berbeda dari gunung api purba. Dengan demikian, meskipun aktivitas vulkanik di wilayah tertentu mungkin kembali, kemungkinan besar itu adalah pembentukan gunung api baru, bukan reaktivasi gunung purba.

Beberapa gunung yang dianggap purba ternyata masih memiliki potensi aktivitas vulkanik, seperti Supervolcano Toba di Sumatra. Meskipun Toba terakhir meletus sekitar 74.000 tahun yang lalu, penelitian menunjukkan bahwa dapur magmanya masih aktif. Hal ini menjadikannya contoh unik dari gunung yang tetap aktif meskipun terlihat “tidur.” Namun, Toba tidak bisa dikategorikan sebagai gunung api purba, karena koneksi dengan dapur magmanya masih ada.

Sebagai kesimpulan, gunung api purba hampir pasti tidak dapat aktif kembali karena telah kehilangan elemen-elemen penting untuk mendukung aktivitas vulkanik.

Sumber:


Posted

in

‹ Beranda