
Samudra Panthalassa atau Pantalassan adalah lautan purba terbesar dalam sejarah Bumi, yang mengelilingi superbenua Pangea selama era Paleozoikum akhir hingga Mesozoikum awal (sekitar 300–200 juta tahun yang lalu). Nama Panthalassa berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “semua lautan”, karena hampir seluruh permukaan Bumi yang tidak ditempati daratan tertutup oleh samudra ini.
Pembentukan Panthalassa
Samudra Panthalassa terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik selama era Paleozoikum. Sebelumnya, Bumi memiliki beberapa superbenua seperti Rodinia (sekitar 1 miliar tahun lalu) dan Pannotia (sekitar 600 juta tahun lalu), yang kemudian pecah dan menyisakan beberapa benua kecil.
Sekitar 335 juta tahun lalu, benua-benua tersebut bergabung membentuk Pangea, yang menjadi satu-satunya daratan besar di Bumi saat itu. Ketika Pangea terbentuk, lautan di sekelilingnya juga menyatu, menciptakan samudra global raksasa yang kita kenal sebagai Panthalassa. Panthalassa menjadi lautan terbesar yang pernah ada, menutupi lebih dari 70% permukaan Bumi. Di bagian baratnya, terdapat Samudra Tethys, yang merupakan laut kecil yang akan berkembang menjadi Laut Mediterania di masa sekarang.
Kehidupan di Panthalassa
Samudra ini juga menjadi rumah dari berbagai spesies purba, contohnya:
- Ammonites – Kerabat purba cumi-cumi dan nautilus.
- Mosasaurus – Predator laut purba dari Zaman Cretaceous.
- Plankton purba – Mikroorganisme yang menjadi dasar rantai makanan di lautan.

Pecahnya Panthalassa
Samudra Panthalassa mulai mengalami perpecahan bersamaan dengan pecahnya Pangea akibat pergerakan lempeng tektonik. Pada periode awal, retakan mulai muncul di Pangea, menyebabkan benua ini perlahan-lahan terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Subduksi di bawah Panthalassa juga semakin aktif, menyebabkan sebagian besar kerak samudranya terserap kembali ke mantel Bumi. Seiring waktu, Pangea mulai terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Perpecahan ini membuka jalan bagi terbentuknya Samudra Atlantik yang semakin melebar, sementara Panthalassa terus menyusut. Gondwana kemudian mengalami pemisahan lebih lanjut, membentuk benua-benua seperti Amerika Selatan, Afrika, Antartika, dan Australia.
Pada akhir periode Cretaceous, sekitar 100 juta tahun lalu, Panthalassa sudah jauh berkurang luasnya. Ketika memasuki era Kenozoikum sekitar 65 juta tahun lalu, Panthalassa hampir sepenuhnya menghilang, berganti dengan samudra-samudra modern yang kita kenal sekarang. Namun, sebagian dari Panthalassa masih bertahan dan terus mengalami perubahan hingga saat ini.
Sisa-sisa Panthalassa
Meskipun Samudra Panthalassa telah lama menghilang, beberapa bagian dari kerak samudranya masih bertahan hingga saat ini, terutama di Samudra Pasifik.
Samudra Pasifik adalah sisa terbesar dari Panthalassa. Meskipun telah mengalami perubahan signifikan, kerak samudra di Pasifik masih menunjukkan jejak dari kerak Panthalassa yang lebih tua, terutama di bagian baratnya.
