Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dan merupakan bagian dari Geopark Gunung Sewu, sebuah geopark yang diakui UNESCO sebagai salah satu geopark dunia. Kawasan ini terbentuk sekitar 60-70 juta tahun lalu pada era Oligo-Miosen, dan memiliki karakteristik geologi yang unik dengan formasi batuan andesit, breksi, serta lava bantal yang dihasilkan dari aktivitas gunung api bawah laut di masa lalu.

Pada masa purba, Nglanggeran merupakan gunung api bawah laut yang terbentuk akibat aktivitas tektonik lempeng dan proses vulkanik di dasar laut. Letusan di gunung api purba ini menghasilkan endapan batuan vulkanik berupa breksi dan lava bantal. Material ini kemudian mengalami pengangkatan karena aktivitas tektonik hingga menjadi daratan, dan tererosi selama jutaan tahun. Struktur batuan keras yang ada di Nglanggeran terdiri dari batuan andesit dan lava bantal yang mengeras dan bertahan meski kondisi geologis dan iklim berubah.

Apakah masih ada sisa kawahnya?

Bekas kawah Gunung Api Purba Nglanggeran tidak lagi terlihat dalam bentuk cekungan kawah aktif seperti pada gunung berapi modern. Sebaliknya, yang tersisa adalah susunan batuan besar dan tebing batu andesit, yang menyimpan jejak lava purba dari aktivitas vulkanik masa lalu. Struktur ini menawarkan pemandangan yang mengesankan, dengan batu-batu raksasa yang mencuat dari permukaan tanah dan menjadi bukti nyata aktivitas vulkanik purba di kawasan ini. Lanskap bebatuan yang unik di puncak Nglanggeran menciptakan suasana mirip “kawah” dalam bentuk yang berbeda, lebih menyerupai struktur batuan besar yang terjal dan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Gunung Api Purba Nglanggeran dan Desa Wisata Nglanggeran telah dikembangkan menjadi destinasi ekowisata yang mengusung prinsip kelestarian lingkungan dan pengelolaan berbasis masyarakat. Desa ini menyediakan jalur pendakian yang memungkinkan wisatawan mencapai puncak dan menikmati pemandangan panorama luas mencakup wilayah Gunungkidul hingga Yogyakarta. Puncak ini menjadi lokasi yang ideal untuk menikmati matahari terbit dan matahari terbenam.

Di sekitar kawasan ini terdapat Embung Nglanggeran, sebuah telaga buatan yang dibangun untuk mengairi lahan pertanian sekaligus menjadi destinasi wisata tambahan. Embung ini menjadi spot yang populer untuk berfoto dan menikmati keindahan perbukitan di sekitar Nglanggeran.

Sebagai destinasi wisata yang unik dan berkelanjutan, Desa Wisata Nglanggeran telah mendapat banyak penghargaan internasional, seperti ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award dan masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destinations dari Global Green Destinations Days. Pengelolaan wisata di Nglanggeran menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat mendukung kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal tanpa merusak lingkungan. Program ini telah menarik perhatian wisatawan lokal dan internasional, serta mempromosikan nilai-nilai ekowisata yang menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam.


Posted

in

‹ Beranda