Di balik barisan bukit kerucut yang membentang di selatan Yogyakarta, tersimpan kisah geologi yang panjang dan menakjubkan. Kawasan karst Gunungkidul, yang merupakan bagian dari Pegunungan Sewu, terbentuk dari batuan kapur berumur Miosen hingga Pliosen. Batuan ini dulunya merupakan endapan laut dangkal yang terangkat akibat aktivitas tektonik, hingga akhirnya membentuk lanskap khas dengan ratusan bukit kecil, gua-gua dalam, dan lorong-lorong bawah tanah yang membingkai wajah selatan Pulau Jawa.

Proses geologi yang membentuk karst ini tidak terjadi dalam sekejap. Selama jutaan tahun, air hujan yang sedikit asam melarutkan batu gamping melalui celah-celah kecil, menciptakan sistem saluran bawah tanah yang rumit. Fenomena ini dikenal sebagai pelarutan atau karstifikasi, dan menjadi kunci dari terbentuknya gua-gua spektakuler. Di permukaan, air sulit ditemui karena cepat meresap ke dalam tanah. Namun justru di kedalaman, terdapat sungai-sungai bawah tanah yang besar, menjadi satu-satunya harapan air bersih bagi sebagian besar warga Gunungkidul yang tinggal di kawasan kering.

Keunikan geologi ini tak hanya menjadi studi penting bagi para geolog dan speleolog, tetapi juga menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu yang telah diakui UNESCO sejak 2015. Sayangnya, kawasan ini kini menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari eksploitasi air bawah tanah, pembukaan lahan untuk permukiman dan wisata massal, hingga penambangan batu kapur. Jika tidak ditangani secara hati-hati, keindahan sekaligus fungsi vital kawasan karst ini bisa hilang dalam waktu singkat.


Posted

in

‹ Beranda

Tags: